CORAK / ALIRAN / GAYA SENI RUPA
1. Naturalisme
Naturalisme
merupakan corak atau aliran dalam seni rupa yang berusaha melukiskan sesuatu
obyek sesuai dengan alam (nature). Obyek yang digambarkan diungkapkan seperti
mata melihat. Untuk memberikan kesan mirip diusahakan bentuk yang persis, ini
artinya proporsi, keseimbangan, perspektf, pewarnaan dan lainnya diusahakan
setepat mungkin sesuai mata kita melihat.
Tokoh-tokoh Naturalisme :
Rembrant, Williamn Hogart dan Frans Hall di Indonesia yang menganut corak ini :
Raden Saleh, Abdullah Sudrio Subroto, Basuki Abdullah, Gambir Anom dan
Trubus.
2. Realisme
Realisme adalah corak seni rupa yang
menggambarkan kenyataan yang benar-benar ada, artinya yang ditekankan bukanlah
obyek tetapi suasana dari kenyataan tersebut.
Tokoh-tokoh realisme ialah
: Gustove Corbert, Fransisco de Goya dan Honore Daumier.
3.
Romantisme
Romantisme merupakan corak dalam seni rupa yang berusaha
menampilkan hal-hal yang fantastic, irrasional, indah dan absurd. Aliran ini
melukiskan cerita-cerita romantis tentang tragedy yang dahsyat, kejadian
dramatis yang biasa ditampilkan dalam cerita romah. Penggambaran obyeknya lebih
sedikit dari kenyataan, warna yang lebih meriah, gerakan yang lebih lincah, pria
yang lebih gagah, wanita yang lebih
4. Impressionisme
Impressionisme merupakan corak seni rupa yang lahir pada tahun 1874. Aliran ini
mengutamakan kesan selintas dari suatu obyek yang dilukiskan. Kesan itu didapat
dari bantuan sinar matahari yang merefleksi ke mata mereka. Mereka melukiskan
dengan cepat karena perputaran matahari dari timur ke barat. Karena itulah dalam
lukisan impressionisme obyek yang dihasilkan agak kabur dan tidak
mendetail.
Tokoh aliran ini : Claude Monet, Aguste Renoir, Casmile
Pissaro, SIsley, Edward Degas dan Mary Cassat.
Di Indonesia penganut
aliran ini : Kusnadi, Solichin dan Afandi (sebelum Ekspresionisme).
5.
Ekspresionisme
Ekspresionisme adalah aliran yang mengutamakan curahan
batin secara bebas. Bebas dalam menggali obyek yang timbul dari dunia batin !
Imajinasi dan perasaan. Obyek-obyek yang dilukiskan antara lain kengerian,
kekerasan, kemiskinan, kesedihan dan keinginan lain dibalik tingkah laku
manusia.
Pelopor ekspresionisme : Vincent Van Gogh, Paul Gaugiuin, Ernast
Ludwig, Karl Schmidt, Emile Nolde, JJ. Kandinsky dan Paul Klee. Di Indonesia
penganut ini adalah : Affandi, Zaini dan Popo Iskandar.
Contoh Lukisan
bercorak Naturalisme, Contoh Lukisan bercorak Impresionisme, karya Basoeki
Abdullah karya George Sevoat.
6. Kubisme
Kubisme lahir pada
saat pameran retpektif Cezanne yakni pada tahun 1907. Corak ini menggambarkan
alam menjadi bentuk-bentuk geometris seperti segitiga, segi empat, lingkaran,
silinder, bola, kerucut, kubus dan kotak-kotak. Disini sei bukanlah peniruan
alam melainkan penempatan bentuk-bentuk geometris dari seniman kepada alam.
Pelopor Kubisme : Gezanne, Pablo Picasso, Metzinger, Braque, Albert
Glazes.
Fernand Leger, Robert Delaunay, Francis Picabia dan Juan Gris.
7. Fuvisme
Fuvisme merupakan nama yang dijuluki kepada
sekelompok pelukis muda yang muncul pada abad ke 20. Ciri khas seni lukisannya
ialah warna-warna yang liar. Des fauves dalam bahasa Perancis artinya binatang
liar. Karena keliaran dari warna-warna itulah oleh kritikus Perancis Louis
Vauxelles dilontarkan dengan nama Fauvisme.
Tokoh-tokoh aliran ini :
Henry Matisse, Andre Dirrain, Maurice de Vlamink, Rauol Dufi dan Kess Van
Dongen.
8. Dadaisme
Dadaisme lahir karena berkecamuknya Perang
Dunia I. Sifatnya dikatakan anti seni, anti perasaan dan cenderung merefleksi
kekasaran dan kekerasan. Karyanya aneh seperti misalnya mengkopy lukisan
Monalisa lalu diberi kumis, tempat kencing diberi judul dan dipamerkan.
Dilakukan juga metode kolase seperti misalnya kayu dan rongsokan barang-barang
bekas.
Tokoh-tokoh aliran ini : Juan Gross, Max Ernst, Hans Arp, Marcel
Duchamp dan Picabia.
9. Futurisme
Futurisme ialah sebuah aliran
seni lukis yang lahir pada tahun 1909. Aliran ini mengatakan keindahan gerak dan
dipandang sebagai pendobrak aliran Kubisme yang dianggap statis dalam komposisi,
garis dan pewarnaan. Futurisme mengabdikan diri pada gerak sehingga pada lukisan
anjing digambarkan berkaki lebih dari empat.
Tokoh aliran ini : Umberto,
Boccioni, Carlo Cara, Severini, Gioccomo Ballad an Ruigi Russalo.
10.
Surrealisme
Surrealisme pada awalnya merupakan gerakan dalam sastra yang
diketemukan oleh Apollinaire utuk menyebut dramaya. Pada tahun 1024 dpakai oleh
Andre Bizton untuk menyebutkan corak dalam seni lukis. Dalam kreativitasya corak
surrealis berusaha membebaskan diri dari control kesadaran, menghendaki
kebebasan yang selanjutnya ada kecenderungan menuju kepada realistis namun masih
dalam hubungan-hubungannya yang aneh.
Pelopor Surrealisme : Joan Miro,
Salvador Dali darl Andre Masson. Di Indonesia bisa disebut : Sudibio; Sudiardjo
dan Amang Rahman.
11. Abstraksionisme
Seni abstrak dalam seni
lukis ialah seni yang berusaha mengambil obyek yang berasal dari dunia batin.
Obyek itu bisa fantasi, imajinasi dan mungkin juga intuisi para seniman. Karena
timbul dari dalam batin. Dalam seni abstrak terbagi dua katagori besar yaitu
:
a. Abstrak Ekspresionisme
D Amerika abstrak ini terdapat
dua kecenderungan yaitu :
- Color Field Painting, yaitu lukisan
yang menampilkan bidang-bidang lebar dan warna yang cerah.
Pelopornya : Mark Rothko, Clyfford Stll, Adolf Got lieb, Robert Montherwell dan
Bornet Newman.
- Action Painting, yaitu lukisan yang tidak
mementingkan bentuk yang penting adalah aksi atau cara dalam melukiskannya.
Tokohnya adalah : Jackson Polack, Willem de Koning, Frans Kliner dan; adik
Twarkov.
Di Perancis abstrak ekspresionesme diikuti oleh : H.
Hartum Gerard Schneider, G. Mathiew dan Piere Souloges. Kemudian yang diberi
nama Technisme dipelopori : Wols Aechinsky dan Asger Yorn.
b. Abstrak
Geometris
Abstrak Geometris disebut juga seni non obyektif.
Dipelopori oleh Kandinsky. Setelah itu bermunculan abstrak geometris yang lain
dengan nama berbeda antara lain :
? Suprematisme, yaitu lukisan
yang menampilkan abstraksi bentuk-bentuk geometris mumi dengan tokohnya adalah
kasimir Malevich.
Konsiruktivisme, sebuah corak seni rupa 3
dimensi yang berusaha menampilkan bentuk-bentuk abstrak dengan menggunakan
bahan-bahan modem seperti kawat, besi, kayu dan plastik.
Tokohnya
: Vladimir Tatlin, Antonic Pevner, Naum Gabo dan A. Rodehenko. Alexander Calder
karena patungnya dapat bergerak disebut Mobilisme di Amerika patung yang dapat
bergerak disebut Kinetic Sculpture. Minimal Art juga termasuk dalam kelompok
konstruktivisme. Seni ini lahir karena situasi tehnologi industri yang tinggi
dan karyanya cenderung kea rah aristektual.
? Neo Plastisisme (De
Stijil), yaitu corak seni abstrak yang menampilkan keuniversalan ilmu pasti.
Aliran ini berusaha mengembalikan pewarna kepada warna pokok dan bentuk yang
siku-siku Tokohnya ialah Piet Mondarian, Theo Van Daesburg dan Bart Van
Leck.
? Op Art (Optical Art), disebut juga Retinal Art yaitu corak
seni lukis yang penggambarannya merupakan susunan geometris dengan pengulangan
yang teratur rapi, bisa seperti papan catur. Karya ini menarik perhatian karena
warnanya yang cemerlang dan seakan mengecohkan mata dengan ilusi ruang. Tokoh
corak ini : Victor Vaserelly, Bridget Riley, Yacov Gipstein dan Todasuke
Kawayama.
12. Pop Art (Popular Art)
Seni Pop atau Pop Art
mula-mula berkemang di Amerika pada tahun 1956. nama aslinya adalah Popular
Images. Seni ini muncul karena kejenuhan dengan seni tanpa obyek dan
mengingatkan kita akan keadaaan sekeliling yang telah lama kita lupakan. Dalam
mengambil obyek tidak memilih-milih, apa yang mereka jumpai dijadikan
obyek.
Bahkan bisa saja mereka mengambil sepasang sandal disandarkan
diatas rongsokan meja kemudian diatur sedemikian rupa dan akhirnya
dipamerkan.
Kesan umum dari karya-karya Pop art menampilkan suasana
sindiran, karikaturis, humor dan apa adanya.
Tokoh-tokohnya antara lain :
Tom Wasselman, George Segal, Yoseph Benys, Claes Oldenburg dan Cristo.
Di
Indonesia yang menganut aliran ini adalah seniman-seniman yang memproklamirkan
diri :Kaum Seni Rupa Baru Indonesia”.
13. Seni Instalasi
Berarti sejumlah kanfas atau obyek ide instalasi dimulai dari barang-barang
yang ditemukan di mana-mana dan kemudian di kembangkan, direkayasa di work
shop, di improvisasi dengan ruang, atau merupakan input respons terhadap ruang
ataupun yang mengelilinginya, susunan dalam sebuah fungsi dirakit dengan
obyek-obyek lain jadilah sebuah sistem itulah instalasi.
BAB II
PRINSIP
DASAR SENI RUPA
Yang dimaksud Prinsip Dasar Seni Rupa adalah
:
Pengetahuan dasar untuk berkarya seni rupa merupakan syarat mutlak yang
harus dimiliki oleh seseorang yang akan berkarya seni rupa dalam bentuk dua
Demensi maupun Karya senu Rupa tiga Demensi.
Secara Scematis dapat
digambarkan sebagai berikut :
1. Komposisi ialah : Suatu cara dan
ketentuan untuk mengatur, mengusun, meramu (menyampur) dengan dasar
kaidah-kaidah yang ada, hingga mewujudkan, suasana tatanan yang harmonis,
kaidah-kaidah yang dimaksud dapat dibagi dua tahap proses yang sebenarnya
kesemuanya itu adalah merupakan satu kesatuan teknis yang tidak bisa dipisahkan
satu sama lain karena saling mendukung untuk mendapatkan hasil karya seni yang
bermutu atau yang berkwalitas, namun demikian untuk permulaan belajar dapat
menggunakan kaidah dasar lebih dulu, karena dengan menggunakan kaidah dasar
tersebut sudah bisa dilihat hasilnya walaupun belum tuntas
penyelesaiannya.
Contoh penerapan komposisi yang sifatnya
1.1.
Mengatur : bagaimana seorang disainer Interior mengatur perabot rumah,
hiasan, foto dalam satu ruangan yang masing-masing disebut elemen
estetik.
1.2 Menyusun : bagaimana seorang disainer seni grafis
menyusun huruf, kata-kata, kalimat, gambar dalam satu bidang media cetak majalah
atau surat kabar.
1.3 Meramu : Kata meramu juga bisa diartikan
mencampur bagaimana cara seorang pelukis mencampur warna, dan seorang opoteker
meramu obat dengan memperhatikan kadar bahan yang dipakai
2. BALANCE
Keseimbangan) yang dimaksud ialah cara mengatur beberapa benda atau bidang
dalam satu bidang kertas gambar aar hasilnya serasi dan harmonis.
Ada
beberapa macam keseimbangan dalam mengatur bentuk/warna dalam gambar
2.1 Keseimbangan Simetri : “keseimbangan yang diterapkan pada pengatura benda
atau bidang yang sama bentuknya, atau jika gambar tersebut dibagi dua merupakan
satu bentuk yang dibagi dua sama besar atau sama dan sebangun.
2.2
Keseimbangan a Simetris = keseimbangan yang diterapkan pada pengaturan benda
atau beberapa bentuk / warna yang tidak sama ukuran besar kecilnya benda, atau
tidak sama posisinya caa meletakkannya.
2.3 Keseimbangan Skew Simetri
= keseimbangan yang diterapkan pada beberapa bentuk benda atau bidang yang sama
tapi sehadap penerapannya banyak dipergunakan untuk menggambar
hiasan.
3. Penerapan faktor keseimbangan dalam pekerjaan sehari-hari
ada tiga macam yaitu :
3.1 Visualize Balance : keseimbangan yang dapat
dinilai melalui pengamatan dan dapat diukur segi besar/kecil, panjang
pendek, wujudnya berupa bentuk benda dua dimensi. Missal gambar ilustrasi,
gambar hiasan, lukisan, foto.
3.2 Audio “balance” merupakan faktor
keseimbangan pada satu karya yang dapat dinikmati/dihayati melalui panca indera
telinga/pendengaran. Missal mendengarkan musik, mengguakan alat Bantu tape
recorder sterio pada tape sterio tersebut ada dua Loud Speaker yang
masing-masing berfungsi untuk menggetarkan suatu yang dapat diseimbangkan
melalui potensio Balance.
3.3 Konstruktif Balance : penerapan
keseimbangan pada karya yang mempergunakan ukuran berat ringan bentuk benda
maupun tiga dimensi, misal : bangunan rumah, monument, patung. Dimana orang
untuk mendirikan suatu bangunan dalam menentukan bentuk kontruksinya harus
mempertimbangkan faktor keseimbangan jika tidak maka berakibat bangunan akan
mudah roboh, atau mudah rusak.
4. PROPORSI (Perbadingan)
Semua
wujud benda yang ada di alam ini masing-masing mempunyai perbandingan atau
proporsi anara benda satu dengan yang lain atau bagian-bagian dalam satu unit
benda. Benda-benda yang dimaksud tersebut bisa benda ciptaan Tuhan, benda alam
bisa benda buatan manusia. Jika kita perhatikan ukuran-ukuran benda yang kita
lihat sehari-hari mempunyai ketentuan ukuran yang sifatnya normatif terdapat
benda-benda mati, benda hidup, atau makhluk hidup.
Benda mati seperti :
meja, kursi, mobil dll
Benda hidup : berupa tumbuh-tumbuhan mulai drai
rumput, pohon, bunga-bungaan, dll
Dalam penerapannya proporsi
(perandingan) ada dua kemungkinan yaitu :
4.1 Proporsi yang diterapkan
pada karya seni rupa dua Dimensi
4.2 Proporsi yang diterapkan pada
karya seni rupa tiga dimensi
4.1 Proporsi pada karya seni rupa
dua dimensi
4.1.1 Proporsi pada bidang ditinjau dari ukuran sisi
bidang panjang dan lebar, secara umum digunakan menurut golden saction yang
dipakai sejak zaman kuno, yaitu ukuran P : K = (2:3) (4:3) (5:7) dan
seterusnya.
Contoh : pada kertas gambar, yang kita gunakan
berukuran : 20 : 30 cm atau 30 : 40 cm juga seperti pas foto 4 : 6 = 4 cm x 6 cm
pada bangunan diterapkan pada : Panjang/lebar jendela/pintu, mungkin juga pada
ruangan.
Untuk menerapkan benuk benda pada kertas gambar atau
pada kanvas seperti menggambar alam benda maka penerapannya proporsinya yang
harus diperhatikan adalah sebagai berikut
4.1.2 Proposal antara
besar gambar dengan luas kertas gambar untuk mempermudah dapat dilakukan dengan
cara yang ideal adalah menentukan bidang 2/3 luas kertas gambar adalah
merupakan besar gambar.
Contoh : Cara menentukan 2/3 bagian dari
luar kertas gambar
1. Bagilah sisi panjang menjadi 6
ruas
2. Bagilah pula sisi lebar menjadi 6 ruas
3. Hubungkan titik-titik 1/6 dari sudut kertas atau ke bawah dan dari kiri ke
kanan.
4.2 Proporsi pada karya seni rupa 3 dimensi
4.2.1 Proporsi antara benda satu dengan benda lain yang ukurannya sudah
tertentu (normatif)
Misal : Gelas dengan Teko
4.2.2
Proporsi antara satu dengan yang lain dalam satu unit benda misal sebuah cangkir
perhatikan tiga gambar.
Contoh : bandingkan mana yang benar dan
mana yang salah antara pegangan cangkir dengan body cangkir.
5. FAKTOR
UNITY (Kesatuan) : Kesatuan yang dimaksud disini adalah kesatuan yang ditinjau
dari segi penataan/pengaturan/penerapan atau rangkaian (inte-atif) hingga
benda-benda yang diatur dalam gambar satu sama lain saling mendukung, apabila
dikurangi salah satu bagian akan terjadi ketidak wajaran atau ketidak
seimbangan.
Ada dua macam yaitu :
5.1 Kesatuan antara
bagian-bagian benda dalam satu unit benda, bila benda tersebut pada satu nama
misal : Teko, cangkir, dengan jelas dapat secara normatif apa bila benda
tersebut adalah teko, karena adanya elemen-elemen yang mendukung dalam satu
kesatuan misal : pada teko tersebut ada body, penyangga, tutup, tempat pansuran
air, dan elemen-elemn tersebut benar-benar punya ukuran tertentu yang
normatif.
5.2 Kesatuan dalam penataan (penerapan) bagaimana menata /
mengatur benda yang nampak satu sama lain saling mendukung hingga menghasilkan
penataan yang serasi / artistik dalam melakukan pekerjaan menggambarkan yang
terdiri beberapa benda maka faktor kesatuan (unity) sangat menentukan kebenaran
kualitas pekerjaan tersebut.
Contoh : jika kita amati gambar dibawah
ini akan merupakan perbedaan yang jelas antara kesatuan dalam penataan dan
kesatuan dalam satu unit benda.
Kaidah-kaidah tersebut merupakan
persyaratan mutlak untuk membuat karya gambar / lukis yang sangat rrendasar juga
merupakan faktor yang sangat mendukung agar karya penataan ruang bermutu atau
bernilai tinggi.
Dalam taraf permulaan ketiga kaidah tersebut sudah
dapat dipergunakan untuk membuat satu karya misal karya gambar bentuk untuk
mengerjakan gambar ada dua macam cara untuk menentukan obyek yaitu :
1. Menggambar dengan model (material)
2. Menggambar tanpa model
(non material)
Menggambar bentuk dengan model atau tanpa keduanya
tetap harus menggunakan memperhatikan ketiga kaidah yang telah di contohnya
diatas, dan kaidah lanjutan sebagai tahap penyelesaian akhir atau tahap
finishing.
Kaidah lanjutan meliputi :
-
Faktor Complexity
- Faktor Intensity
- Faktor
Emphaty (Emphasis)
Faktor Complexity, yaitu berkenaan masalah
kerumitan, ketelitian dalam mengabadikan obyek gambar dimana masing-masing benda
mempunyai karakteristik yang sangat menentukan dalam penampilan khususnya
masalah texture gelap terang benda, atau karakteristik benda.
Seorang
pelukis akan dinilai karyanya berkwalitas apabila dalam menampilkan hasil
lukisan (gambar) dengan Complexitas/ketelitian yang tinggi.
Contoh :
gambar dibawah ini menunjukkan kondisi gambar benda yang mempunyai nilai
complexitas/ketelitian yang tinggi dan yang lain tidak.
5. Faktor
Intencity : yang dimaksud ialah ketajaman warna atau gelap terang pada
penampilan gambar (lukisan) hingga kesan bayangan demensinal benda benar-benar
nampak, untuk menunjukkan kondisi volume dari suatu benda atau menunjukkan kesan
perspektif dari penataan benda-benda dalam gambar, untuk mewujudkan hasil gambar
/ lukisan yang berkualitas dibutuhkan ketrampilan / kemampuan yang
tinggi.
6. Faktor Emphasis : maksudnya adalah pusat perhatian dari
seluruh rangkaian gambar atau bagian dari gambar/lukisan yang dijadikan focus
pandangan dengan istilah lain dapat disebut Centra of Inters, untuk mewujudkan
hal ini dapat dilakukan dengan jalan memberi warna yang mencolok (kontras) atau
membagi garis arah berlawanan, dan dapat pula dengan arsir yang intensitasnya
tinggi.
2.3. UNSUR-UNSUR SENI RUPA
Yang dimaksud dengan
unsur-unsur seni rupa ialah bagian-bagian yang sangat menentukan terwujudnya
suatu bentuk karya seni rupa karena pemahaman kerangka dari pengertian
unsur-unsur inilah maka seseorang akan mampu membuat karya seni rupa menjadi
lebih sempurna, unsur-unsur seni rupa yang dimaksud adalah :
1.
titik 4. bentuk 7. gelap terang
2. garis 5.
texture
3. bidang 6. warna
1. Titik : Satu
bentuk/tanda yang dibuat dengan satu kali tekan dengan menggunakan alat
tulis/alat lukis, dapat pula dikatakan titik merupakan suatu bentuk yang paling
kecil dari seluruh rangkaian bentuk yang dibuat dalam pekerjaan
menggambarkan/melukis.
2. Garis : Merupakan visualisasi dari
kumpulan titik-titik yang bersambung memanjang.
Garis menurut
bentuknya ada 6 macam, yaitu : garis lengkung, garis patah, garis lengkung
berganda, garis patah berganda dan garis melingkar.
Garis menurut
fungsi dan sifatnya ada tiga yakni :
- Garis nyata : yaitu
garis yang nampak sebagai perwujudan bentuk bidang segi tiga, segi empat dan
sebagainya yang selanjutnya garis merupakan elemen pembentuk bidang.
-
Garis Semu : garis yang dibuat untuk menyatakan adanya bentuk bidang namun
sebenarnya garis tersebut tidak ada, misal pada bentuk bidang lengkung.
- Garis Bantu : garis yang dibuat untuk menunjukkan bahwa garis
tersebut memang benar-benar ada namun tidak nampak, karena tertutup bidang
lain.
Dapat pula garis bantu merupakan garis penunjuk arah atau garis
Bantu pembentuk benda : contoh pada teknis gambar perspektif.
Macam-macam garis :
a. Garis lurus c. Garis patah e.
Garis patah berganda
b. Garis lengkung d. Garis lengkung
berganda f. Garis lingkar
3. Bidang : bidang terjadi
karena rangkaian garis-garis dapat pula dikatakan, garis merupakan awal terjadi,
perhatikan gambar-gambar berikut:
Gambar macam-macam
bidang :
Bidang datar terjadi karena rangkaian
garis-garis lurus.
Bidang lengkung terjadi karena
rangkaian garis-garis lengkung.
Secara kontekstual
realitanya bidang itu dibentuk dengan asumsi yang dapat menimbulkan berbagai
kemungkinan akan penafsiran tergantung konteks dan cara pandangnya, kemungkinan
yang dimaksud adalah adanya :
3.1. Bidang negatif :
Apabila bidang itu terbentuk dengan tiga garis atau empat garis dan dianggap
berlubang atau tembus, hingga garis yang dibuat berfungsi sebagai contur, contoh
konkritnya adalah pigora dan kanvas.
3.2. Bidang Positif :
Apabila bidang tersebut terbentuk berjajar dan bersambungan garis-garis
yang banyak, contoh konkritnya adalah keray, bidang yang dibuat dari bilah bambu
yang dirajut.
4. Bentuk : Istilah bentuk muncul karena menyatunya
garis-garis atau bidang-bidang, karena perbedaan masing-masing garis dan bidang
maka muncul pula macam-macam namanya bentuk benda dua demensi maupun benda tiga
demensi. Bentuk yang digunakan sebagai bagian dari desain, menyangkut dalam dua
dimensi atau benda tiga dimensi.
Bentuk hadir dengan berbagai ragam
sifat yang berwujud dibuat secara matematik atau geometris seperti : elips, segi
tiga, segi empat, oval. Semua bentuk bidang yang dibuat dengan cara geometris
disebut bidang beraturan, secara teknis membuatnya selalu menggunakan
pertolongan lingkaran.
Secara realita keberadaan bentuk bidang atau
benda dua demensi maupun tiga demensi ada dua macam yaitu bentuk bidang
beraturan dan bentuk bidang tidak beraturan, keberadaan bentuk bidang tersebut
mempengaruhi terhadap terjadinya bentuk benda beraturan dan benda tidak
beraturan.
Contoh :
1. Sebuah kubus yang terjadi
karena enam bidang bujur sangkar disebut bentuk benda beraturan.
2. Sebuah bentuk benda yang terjadi karena gabungan bidang tidak beraturan.
3. Teksture : yang dimaksud ialah bentuk atau rupa muka yang
dapat memberikan cirri khas atau karakteristik suatu benda.
Pembentukannya terjadi dari tiga proses.
1. Proses kimiawi
(Chemis)
2. Proses Mekanik (Mesin)
3. (Proses Alami
(Proses Alam)
4. Proses cetak (buatan tangan)
1.
Teksture Chemis : bentuk permukaan suatu benda yang ditimbalkan oleh adanya
bahan-bahan yang senyawa kimiawi.
Misal : Plastik, gelas
dan lain-lain yang kesemuanya benda tersebut tidak bisa dibuat dengan tangan
langsung dan juga tidak dengan bantuan mesin.
2. Teksture
dengan proses mekanik :
Bentuk perumbaan suatu benda yang
ditimbulkan dengan jalan bantuan alat yang disebut mesin, bisa berupa mesin
sederhana sampai mesin yang canggih : misal texture kertas, kulit imitasi ada
kertas yang halus, kasar, tekstur decoratif.
3. Teksture
dengan proses alami : suatu bentuk/wujud permukaan suatu benda yang ditimbulkan
oleh gejala-gejala alam, misal : corak batu yang kita lihat diatas bumi
bermacam-macam adanya ada batu hitam kelam halus ada batu kasar, ada batu
permata dll.
Semua itu terjadi karena fenomena alam atau
menurut kekuasaan sang pencipta yaitu Tuhan.
4. Tekture proses
olah tangan (buatan manusia) menjadi permukaan suatu benda yang terjadi karena
dialah oleh tangan manusia, misal : dengan digores dengan benda tajam, digosok,
atau dicacah dengan benda runcing.